Selasa, 17 April 2018

[Repost]Mintalah Apa-apa yang Tidak Bisa Dibeli oleh Ayah

Kelak, ketika tumbuh mintalah apa-apa yang tidak bisa dibeli oleh Ayah. Mintalah waktunya, mintalah cintanya, mintalah ilmunya. Ibu yakin Ayah mampu membelikanmu segala apa yang kau inginkan, namun Ibu tetap akan meminta Ayah untuk memberi apa yang tidak bisa dibeli olehnya. Hiduplah dengan sederhana, Nak. Banyak yang akan Ayah Ibu ajarkan kepadamu, dan sudah barang tentu kami juga akan belajar banyak darimu.
-dari sini;
p.s: saya juga follow blog yang disebut 'Ayah' pada tulisan itu di sini 
sudah lama diceritain Tyani padahal

Jumat, 13 April 2018

Carilah (Pahala) Negeri Akhirat

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. --Al Qasas(28):77

tilawahbadr, 3 April 2018 

Kamis, 12 April 2018

Contemplate

Mengambil jeda setelah bisa pulang. Memilih diam dan berbicara dengan diri sendiri. Biasanya, saya ingin melakukan saat badr masih sepi di pagi hari.

Tapi hari ini rasanya belum ingin pulang cepat.

Ada banyak hal yang perlu dibereskan. Sayang waktunya mungkin akan sulit jika dalam waktu lama. Sebab terlalau banyak mengapa.

Jumat, 06 April 2018

Expectation

Put zero expectation. Put zero expectation. Put zero expectation.

Jumat, pada gelas-gelas teh yang tak tersentuh.

Kamis, 05 April 2018

5 April 2015

5 April 2015. Tiga tahun berlalu, cepat sekali.
banyak hal yang bisa dituang, tapi memilih ini karena tanggal. ketimbang pada akihrnya ndak jadi-jadi seperti ucapan selamat hari icare 2-3 april kemarin

Rabu, 04 April 2018

Kata-kata

Kita tidak pernah tahu, bagian mana dari kata-kata kita yang barangkali mengubah perasaan orang lain; entah menjadi lebih baik, atau justru menjadi lebih buruk.

Seperti seujung kata terima kasih yang disampaikan salah seorang kakak di suatu Senin ketika saya sudah resmi tidak di tim itu Jumat sebelumnya. Kata yang tak disangka dari orang yang tak disangka. Rasanya menenangkan segala luapan emosi dan tangis yang saya tahan-tahan Jumat sebelumnya..

Seperti kata rumah yang disampaikan seorang teman kemarin, ketika sehari sebelumnya ada kata-kata sindiran cukup membuat diam. Meskipun tahu itu bukan sindiran, tapi becandaan. Apalah daya kondisi yang sedang sensitif memilih diam saja, berusaha tidak memasukkan apapun ke hati.

Kita tidak pernah tahu bagaimana efek dari kata-kata yang kita sampaikan pada orang lain. Tidak tahu itu menyakitinya, atau ternyata membuatnya lebih tenang dan merasa lega. Meskipun di satu sisi memang terkadang kita perlu menebalkan telinga untuk kata-kata yang barangkali akan membuat kesal dan menguras stok bahagia.

Maka, berkata baik atau diam saja memang keharusan ya :") karena ndak pernah tau kondisi orang lain waktu mendengar itu jadi kayak gimana. Dengan teman-teman selingkaran yang udah biasa no-hurt-feeling pun somehow kita perlu tau kondisi orang lain waktu kita saling melempar canda.

Selamat berproses dan berprogress ya Fit mengelola emosi. Belajar! Kita tidak pernah tahu di depan nanti ada apa. Hari-hari ini, semoga bisa kamu sikapi dengan baik :')


4 April 2018
setelah rumit sekali hati dibujuk kompromi belakangan ini
setelah tulisan-tulisan di blog berujung pada draft karena memilih diam
setelah merasa sepi, di dunia yang ramai ini

Minggu, 11 Maret 2018

Tentang Sabar

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan." - QS. Hud:15
Ayat ini dilengkapi oleh ayat yang lain.
"Katakanlah (Muhammad) "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi roang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." - QS Az Zumar:10

Allah perintahkan berkali-kali soal sabar di Quran, termausk pada ayat-ayat lainnya yang tidak dicantumkan di sini. Sabar itu berat dan sulit sekali. Ujiannya juga setiap hari :")) Tapi Allah sudah janjikan kebaikan yang banyak dibaliknya. Sabar tidak hanya tentang diri sendiri (sabar menghadapi ujian yang ditujukan pada pribadi, sabar menghadapi sikap orang lain yang kurang menyenangkan, sabar berproses meraih ambisi-ambisi pribadi, sabar berproses untuk menarik perhatian dari Allah dan mengupayakan ridhaNya, sabar untuk tidak bermaksiat, sabar beramar makruf-apalagi bernahi munkar, dan lain sebagainya) tapi juga sabar dalam hal-hal yang bersifat komunal; barangkali semacam kepanitiaan acara yang bersabar menghubungi pembicara atau mengumpulkan donasi, sabar dalam menciptakan momentum pareto untuk produk yang sedang dikembangkan, sabar menjalani rapat-rapat koordinasi yang panjang, sabar ketika peluang-peluang usaha dalam tim bekerja belum menjumpai hasilnya.

Aih, sepertinya tidak perlu berpanjang lebar curhat di sini tentang ini. Biar diresapi dalam-dalam saja ke dalam sanubari ayatnya.

Semoga Allah menjadikan saya (dan teman-teman semua) sebagai pribadi yang kuat yang mampu bersabar atas berbagai hal yang terjadi. Aamiin.

p.s; Beberapa hari yang lalu teman saya mengepos di media sosialnya suatu ayat tentang sabar. Surat Az Zumar ayat 10. Saya jadi ingat salah satu note #googlekeeping waktu tilawah Badr *as usual hehehe. Surat yang saya catat di #googlekeep adalah Surat Hud ayat 115. Kala itu catatan tilawah Badr 10 Januari 2018. Sebenarnya pingin dipos pekan lalu tapi pada akirnya saya dahulukan postingan yang ini. Mungkin, emang Allah hendak mempertemukan ayat pendukungnya, makanya dipending sampai pekan ini hehehe.

mulanya dari catatan tilawah Badr, 10 Desember 2017
Baru benar-benar dituliskan sekarang
bagian dari #googlekeeping



Sabtu, 10 Maret 2018

[Repost]Tips Asma Nadia untuk (Calon) Penulis

inti dari kenapa saya (re)pos video ini (dari postingan Kak Nisa) adalah pesan di penghujung video

kangen sekali dengan aktivitas bersama FLP Jogja :")
*ditambah ada rasa-rasa menyesal duu tidak memaksimalkan perjuangan :""

terima kasih Kak Nisa, share videonya :")

Kamis, 08 Maret 2018

08/03/2018

8 Maret mengingatkan saya pada teman yang ulang tahun tanggal segini. Tapi baiklah itu tidak terlalu penting. Tanggal ini sejujurnya juga mengingatkan saya pada usia saya sendiri. Dan nampaknya kerap kali begitu di 8 Maret. Bulan ini pun saya perpanjang SIM, which means ternyata 5 tahun sejak saya bikin SIM itu sudah berlangsung dan terlewati, dengan banyak hal yang terjadi sepanjang saya asudah legal berkendara di jalanan rupanya. Dan lagi-lagi, karena batas expired SIM itu sama kayak kartu identitas cem KTP, maka perpanjang SIM itu juga menadarkan soal usia sih. Orang-orang di ruang tunggu perpanjang SIM aja ngeh soal hubungan usia ini. Ada yang nyeletuk, "Ini paasti semuanya pada lahir bulan April." Saya nyengir, walau saya yakin gak semuanya lahir Maret juga sih. Tapi mungkinn memang sebagian besar.

Bertepatan dengan tanggal ini juga adik bungsu saa sakit. Asmanya kambuh. Saya masuk setengah hari. Gantian dengan Ummi yang mulanya ada agenda pagi dan kemudian digeser agendanya jadi siang (karena agenda pagi saya yang ngga bisa diundur). Pulang saya ke rumah jadi mikirin beberapa hal sih. Tentang posisi keluarga, tentang sakitnya keluarga, tentang menjaga.

Saya sampai rumah dan Ummi sudah berangkat. Adik saya tadinya hendak dititip tetangga. Tapi ternyata dia nggak mau dan nunggu sendirian di rumah. Mulanya sampai rumah dia masih terlihat bisa disehat-sehatin sama badannya Walaupun nafasnya masih terlihat tersengal dan masih batuk. Menjelang satu jam kemudian, saat saya minta dia istirahat mulai keliatan deh kalau dia makin sesak dan nggak enak mau ngapa-ngapain. Khawatir juga sih soalnya nafasnya sudah lebih pendek daripada pas pagi. Sampai akhirnya dia baru bisa tidur dengan posisi duduk dipangku dan kepalanya nyender menghadap ke arah belakang pundak. Setelah dia struggling dengan berbagai posisi di kursi dan posisi sekadar menyender. Pikir saya, bisa ya ngerasa nyaman dengan posisi dipangku. Padahal dia udah segede itu dan kalo saya mikirnya kayaknya jg enakan tidur atau nyender (karena kalau sesak posisi tiduran gitu akan bikin lebih ga enak sih jadi enaknya tidur yg bantalnya ditinggiin atau posisi duduk) gitu. Tapi ternyata ini masih terjadi, ya, di usia dia yang segini. Biasanya kan yang nemplok ibu-ibu yang maunya digendong yang bayi-bayi gitu. Ternyata sampe usia 3 SD gini masih ada hawa-hawa begitu. Heu, jadi terharu.

Posisi begini membuat saya ndak bisa ngelanjutin hal-hal yang mestinya dikerjain. Ngga bisa pegang laptop juga. Maka kemudian dipasrahkan saja akhirnya. Ikutan lah tidur. Alhamdulillah kerjaan bisa ditunda malamnya. Tapi hal demikin bikin mikir juga sih. Strong banget ya ibu-ibu yang bisa bagi waktu dan perhatian antara aktivitasnya (saya ngga bilang aktivitas kerja doang, karena banyak aktivitas ibu-ibu lainnya). Dan nggak cuma waktu dan perhatian, tapi juga melibatkan emosi, perasaan, kesabaran, pikiran, tenaga, dan lainnya. Apalagi yang anak-anaknya banyak dan kecilnya barengan (jarak usianya ngga terlalu jauh). Masya Allah :"))

Siang menjelang sore ini juga (saat Fatih kemudian beringsut dari pangkuan dan duduk tidur dengan posisi yang tidak lumrah itu), Maryam, sahabat baik saya yang baru saja menikah menelepon. Menyenangkan sekali bertukar cerita dengan Maryam kemarin itu. Kayak udah lama ga ketemu. Ssebenarnya terakhir ketemu Februari kalau nggak salah, tapi yang bikin kerasa lama adalah karena dia baru saja menjalani hidup barunya yang serba baru:")

Atas segala hal yang terjadi pada hari ini, maka ya ini postingan hanya random menyaut apa-apa aja yang terlintas di 8 Maret. Mohon maaf jika nirfaedah. Tapi memang ingin menuntaskan apa yang mengendap di kepala. Sekian.

Rindu

Rindu itu ada dua jenis; rindu atas hal-hal yang kita punya dan rindu atas hal-hal yang tidak-atau barangkali belum-kita punya.

Rindu itu ada dua jenis; rindu yang bisa membawa kita pada ridhanya Allah, dan rindu yang bisa membawa pada murkanya Allah.

Rindu itu ada dua jenis; rindu yang dijalani dengan eksekusi segera, atau rindu yang dijalani dengan sabar.

Rindu itu ada dua jenis, rindu yang ngabisin waktu, dan rindu yang justru bikin produktif.


sedang rindu
sedang banyak rindu
sedang berpikir rindunya ini masuk kategori yang mana
sedang berpikir bagaimana harus menyikapinya dengan baik
/teruskumahainimalahnulisblog

Minggu, 04 Maret 2018

Jadilah Pemaaf dan Senantiasa Ingat pada Allah

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh (199). 
Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah*. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui (200).
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya) (201).
*dengan membaca taawudz
QS. Al-A'raf 199-201
Refleksi;
Apakah sudah jadi pemaaf? Pemaaf yang benar-benar pemaaf. Yang mudah memaafkan bahkan tanpa perlu membahas masalahnya dulu. Sementara pemaaf bukan sekadar perilaku yang oleh masyarakat dianggap baik, lebih dari itu; adalah perintah dalam Alquran.
Apakah sudah reflek mengingat Allah kalau mau maksiat atau melakukan perbuatan yang sia-sia? Sementara saya tahu bahwa Allah senantiasa melihat, tapi diri ini ternyata mudah sekali mengabaikannya :"(

catatan tilawah Badr, 7 Desember 2017
Baru benar-benar dituliskan sekarang
bagian dari #googlekeeping

Kamis, 01 Maret 2018

Kalau Baca Buku Agama

Kalau baca buku lain, nyesel kalo ga bagus. Kalo buku agama bagus-bagus. Sejarah Islam, sejarah sahabat, lebih seru. 
-seorang teman

le me cukup tertohok karena masih lebih suka baca buku fiksi. kata temen saya ini, banyak benernya juga. mestinya kalo baca buku agama kita ga akan pernah kecewa sama isinya, beda sama baca buku fiksi. 

Belajar dari Orang-orang Baik

Suatu masa saat aliyah, pada suatu kepanitiaan bakti sosial, kami berdiskusi tentang peminjaman mobil sekolah untuk urusan operasional panitia. Kala itu menjelang dua acara besar di sekolah, bakti sosial yang tadi saya sebut, dan satu lagi kompetisi antar sekolah yang telah melegendaris dari masa ke masa. Dua-duanya tentu butuh mobil sekolah untuk urusan operasional kepanitiiaan.

Saat itu saya bilang, Kita pinjam aja duluan mobilnya daripada keduluan sama panitia acara lomba (saya nyebut nama acaranya).
Tapi salah satu teman saya yang ikut rapat bilang, Jangan. Kita obrolin aja sama mereka biar sama-sama enak. kapan mereka mau pakai, kapan kita mau pakai.
Honestly, saat itu saya maluuu banget. Kayak saya kok egois banget ya mentingin acara yang saya termasuk panitia intinya. Padahal di acara kompetisi antar sekolah itu saya juga jadi panitia.

Waktu berjalan, obrolan itu ternyata berkesan dan masih saya ingat sampai hari ini.
***
Suatu hari di tingkat akhir kuliah. Skripsi saya mentok, saya perlu bimbingan. Ibu dosen pembimbing sedang masa-masa sulit dihubungi, dan anaknya beberapa kali jatuh sakit sehingga sulit sekali janjian untuk bimbingan. Drama-drama skripsi yang pake nangis sudah berlangsung.

Kala itu pikiran saya berbunyi, kalau memang nggak bisa bimbingan, setidaknya ada kabar kalau memang tidak bisa. Atau kalau memang tidak bisa ketemu, email progress saya mengapa tidak ditanggapi. Email pertanyaan dan chat minta bimbingan kenapa tidak dijawab. Itu kalo gak salah ceritanya ibu dosen abis sulit dihubungi yang sulitnya tuh semacam lapor progress tak ada balasan, tanya konsul tak ada balasan, dsb dll. Padahal biasanya meski nggak ketemu Ibu dosen tetap membalas email-email itu.

Lalu waktu saya nelpon Ummi ceritalah saya hal-hal tersebut.

Saya ingat sekali, salah satu hal yang Ummi saya bilang adalah, Doain dosennya. Doain semoga anaknya lekas sehat. Doain semoga urusan-urusan dosennya lancar.

Saat itu saya tertegun. Iya, ya. Kenapa dari dulu doanya hanya sekadar semoga dosennya mau balas email saya. Semoga janjian bimbingannya mudah. Semoga saya dikuatkan dan dimudahkkan dalam mengerjakan skripsi saya.

Egois sekali doa-doa saya. Padahal doa kita ke orang lain akan malaikat aminkan untuk diri kita juga. Padahal doa tuh gratis, murah, mudah. Tapi kenapa isi doa itu saya ngak kepikiran, ya. Doa untuk kebaikan-kebaikan Ibunya. Bukan melulu terpusat pada saya.

Hiks, malu sekali saat itu.
***
Suatu hari di Badr, saat teman saya menyadari ada sedikit bug pada salah satu aplikasi yang kami jadikan benchmark.
Saya bilang, lapor aja ke mereka bug yang kamu temuin. Kali aja dapet sesuatu. Kalimat terakhir rada-rada oportunis sih hehe soalnya dulu ketemu temennya Nilam yang ngelaporin bug ke Gojek terus dapet saldo gopay sekian ratus ribu. Tolong abaikan saja kalimat itu karena itu bukan ini utama tulisan ini ehehe dan jangan ditiru pls.

Temen saya bilang, Gak mau ah, nanti mereka jadi lebih bagus daripada punya kita.

Lalu saya dengan reflek bilang, Tenang aja, kebaikan itu pasti berbalik ke kita juga, kok. Abis ngomong gitu saya bengong juga sih sama kata-kata saya sendiri.

Pulang dari Badr, di perjalanan saya mikir juga, kok bisa ya tadi seenteng dan serefleks itu ngomong begitu. Mikir, mikir, mikir, lalu terngiang lah saya akan obrolan semasa aliyah dan obrolan sama Ummi yang tadi saya tulis. Mungkin nggak nyambung-nyambung banget ya Tapi otak saya merelate ke situ aja secara otomatis. Dua hal itu.

Dua hal itu yang membuat saya berpikir bahwa, kebaikan orang itu magis, meskipun orang-orang tadi tidak menyadari.

Teman aliyah saya barangkali (dan saya yakin wkwk) sudah lupa isi obrolan itu. Dia tidak tahu bahwa obrolan itu saya ingat sampai hari ini dan bahkan bisa mendukung lahirnya ucapan lain setelahnya. Teman saya mengajakan saya untuk mencari titik temu, dibandingkan merasa menang terhadap yang lain. Ummi juga barangkali tidak berpikir bahwa kalimatnya akan membekas bagi saya. Bahkan juga tidak tahu bahwa saya sempat mengatakan hal tersebut pada teman saya yang sempat sulit mencari tanda tangan dosennya kala pengurusan skripsi. Ummi mengajarkan untuk peduli, mengajarkan untuk coba perhatikan juga urusan orang lain, dan doakan. Berpikir untuk tidak mementingan diri sendiri bahkan dari sudut pandang doa, sudut terkecil yang kalau dipikir-pikir, isi doa itu nggak banyak kan orang yang tau. Paling ya kita saja sebagai orang yang berdoa.

Saya berpikir, dua obrolan kecil itu saja bisa mengubah pola pikir saya beberapa waktu setelahnya tanpa saya sadari.

Saya bersyukur akan keberadaan orang-orang baik di sekitar saya. Kebaikan yang bahkan bisa mengubah pola pikir. Kebaikan yang bisa membuka mata untuk melihat dari kaca mata yang lebih luas. Di sisi lain, mereka tentu tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan berkesan dan menimbulkan bekas bagi saya yang dalam case ini mengorol dengan mereka. Pelajarannya apa? Kita tidak pernah tau apa yang bisa dipelajari orang lain dari diri kita, dan, ya tidak perlu tahu juga sih. Tapi, berbuat baiklah di manapun, tanpa perlu berharap apa-apa. Kebaikan akan menimbulkan kebaikan lainnya, insya Allah.

Semoga Allah memberi kebaikan pada teman saya, Ummi, dan juga orang-orang baik di sekitar saya.


Rumah, 1 Maret 2018
tulisan ini sudah lama menjadi draft di kepala

Rabu, 28 Februari 2018

Bury Your Emotions

t e r p e l a t u q u e

kenapa sih kadang kita saya masih emosian, padahal orang juga gak pingin liat saya emosi
dan kita saya juga nggak pingin liat orang lain emosi

kenapa kadang kita saya gak sadar bahwa kita saya belum melakukan apa yang sebenarnya pun kita saya inginkan orang lain berbuat deimkian pada kita saya 

mengelola emosi itu suit memang, tapi dampaknya besar sebenarnya

seperti ammah intan sampaikan ketika saya silaturahim nengokin dedek migu, salah satunya.
"kalau aku bisa balik ke masa-masa belum menikah, aku pingin beajar mengelola emosi lagi dengan lebih baik. mengelola emosi itu kerasa banget lho waktu pengasuhan anak." 

semoga bisa belajar mengelola emosi dengan lebih baik, ya.


ditulis tanggal 15 Februari 2018,
abis dapet gambar ini dari grup NASRI 7
entah kenapa baru diselesein ngeposnya sekarang

Selasa, 27 Februari 2018

Tidur dan Bekerja

Tidur pas kerja. Honestly, itu jauh lebih baik daripada kerja pas (harusnya) tidur.

-Dino, 2018

Sabtu, 17 Februari 2018

:")

pada suatu malam yang diliputi oleh kecemasan dan kekhawatiran
disertai ngantuk yang menyerang mulai siang
saya merasa senang sekali Allah beri screen momentum chrome seperti ini :")

Terima kasih ya Allah. Semoga segala sesuatunya lancar.


setelah menutup trello-trello
dan pertama kalinya (semoga terakhir juga) 
pulang dari Badr dengan pintu belakang komplek perumahan sudah ditutup

untuk Kamis, 15 Februari 2017
sampai jumpa dengan keadaan lebih baik, insya Allah

Senin, 12 Februari 2018

Kapan Tidak Ingat Mati

A: "Kapan seseorang itu nggak ingat mati?
Z: "Simpel aja sih, waktu ketawa, misalnya."

-percakapan di ruang tebi, udah lumayan lama sih
lama nggak nulis, banyak yang bisa diceritakan, sebenarnya

Minggu, 04 Februari 2018

Oliver Jeffers dan Buku-Bukunya

gambar dari sini

  • About Oliver
Beerawal dari share-an di suatu grup tentang titip menitip buku di kinokuniya Alih-alih mencari referensi, saya justru melihat-lihat buku anak (dan membandingkan dengan bookdepository).
Lalu saya menemukan...buku-bukunya Oliver Jeffers.

Berawal dari ketertarikan terhadap buku yang berjudul How to Catch a Star, lalu menemukan beberapa buku yang mirip style covernya. Maka saya mencari tau tentang Oliver Jeffers dan menemukan beberapa situs tentangnya dan karya-karyanya.


Setelah kepo sinopsis-sinopsis buku dari brief yang ada di bookdepository, saya menemukan spoiler-spoiler isi bukunya dari laman http://www.oliverjeffers.com/picture-books/ dan amaze dengan karya-karyanya. Beberapa yang jadi wishlist adalah Here We Are, A Child of Books, The Day The Crayons Came Home, The Heart and The Bottle, dan...tentu saja How to Catch A Star. Bisa jadi ada buku lain yang menarik tapi saya menahan diri buka satu-satu karena khawatir sama wishlist yang semakin banyak *lah.
gambar dari sini

Here We Are saya tertarik soalnya membahas tentang alam semesta tempat kita tinggal, dan ilustrasinya yang begitu menyeluruh dan detail. A Child of Books karena spoiler halamannya yang ada di sini yang salah satunya bisa dilihat di gambar paling pertama. 

gambar dari sini

The Day The Crayons Came Home karena idenya kreatif bangeeet. Imagine bahwa bagaimana jika semua krayon yang dimiliki oleh seorang anak bernaa Duncan pergi dari rumah Duncan, ada yang karena ingin meliat dunia luar dan merasa dirinya membosankan (warna pea green), ada yang karena berantem merasa dirinya warna matahari dan ingin membuktikannya ke matahari (orange and yellow, dan akhirnya mereka tahu bahwa warna matahari adalah..warna hot! wkwk), dan krayon berwarna lainnya yang uniknya krayon-krayon ini ngirim kabar juga ke Duncan dengan postcard. Aku berpikir bahwa dari judulnya, nanti akan ada episodde bahwa si krayon-krayon ini balik ke rumah Duncan. 
gambar dari sini


The Heart and The Bottle karena ceritanya mengisahkan seorang anak perempuan yang ingin meletakkan hatinya di dalam botol untuk mengamankana hatinya. Aku penasaran sih kisah selanjutnya gimana si anak ini dengan hati yang dia taruh di botol itu. Terakhir judul yang How to Catch A Star tentu saja karena aku suka bintang di langit dan cerita di sini mengisahkan keinginan sederhana seorang anak yang begitu menyukai bintang. Ia suka sekali mengamati bintang dari jendela kamarnya dan bermimpi bisa berteman dan bermain bersama bintang. Akhirnya dia membuat rencana agar bisa menangkap satu bintang untuk dirinya.
gambar dari sini
Saya pernah ngobrolin soal cerita anak dari luar negeri bersama salah seorang editor di Noura. Beliau waktu itu bilang cerita anak dari luar itu sifatnya menghibur dulu, kalau di sini masih lebih banyak yang sifatnya memberi informasi dan pelajaran lebih dulu. Masih sedikit sekali yang menghibur, begitu katanya. Waktu lihat-lihat buku Oliver Jeffers ini saya kembali ingat kata-kata beliau. Betapa lepasnya imajinasi penulis seperti Oliver Jeffers tapi masih bisa dimengerti dan tetap logis untuk ranah imajinasi. *nahlho bingung kan. 

Sabtu, 03 Februari 2018

Sabtu, 4 Februari 2017

Sabtu, 4 Februari 2017. Sudah setahun berlalu.
Waktu berlalu cepat sekali. 

.
.


dan tanpa sengaja hari ini pakai baju yang sama
dan masih ingat rute setahun lalu: st. pocin-tokobuku-lapangan rektorat UI-mushala RIK-st.pocin-st.bogor-angkot-ketemu di tengah jalan-nyari foresthree-yg lain karaoke dan sa pulang naik bus bogor rambutan-dijemput di al baliyah
*kenapa ya hal-hal ndak teralalu penting kekgini ingat? apakah ini perks of being ISFJ(?)

3 Februari 2018

Perpisahan Itu

"Perpisahan itu, ketika salah satu berhenti mendoakan. Sebaik-baik tempat ketemu itu di surga."
-Nusaybah Amatullah, walau sempat juga ia nyebut kalimat pertama dengan sumber Yasir Abdan Syakur

Barangkali, lain waktu saya hendak menuangkan beebrapa pikiran tentang kalimat-kalimat ini.

tulisan ini termasuk salah satu bagian dari #googlekeeping

Prioritas Hidup

"Muadz tahu bahwa prioritas hidupnya adalah bagaimana mempersiapkan mati dengan khusnul khotimah." (Muadz bin Jabal)

Ima mengakhiri presentasi nama sprint 15 TemanBisnis dengan kalimat itu. Tentang prioritas. Yang juga perlu direfleksikan ke diri sendiri.

#temanbisnis #googlekeeping
tulisan ini termasuk salah satu bagian dari sini



GoogleKeep-ing

Saya sering sekali meng-keep apa-apa di google keep. Instead of menggunakan aplikasi notes bawaan hp, mencatat di google keep menyenangkan karena bisa sync ke mana-mana selain hp; di aplikasi laptop maupun di browser.
Sudah lama sekali rasanya pingin mengkliping apa-apa yang ditulis di sana ke sini. Mengklip apa-apa yang tercapture dalam cerita sehari-hari, daripada tidak menulis sama sekali.

Semoga tidak jadi wacana. Dan, maaf maaf kalau kadang jadi banyak tumpah. Lha, itu kan di atas udah ada slogannya; writing like no one's watching.


Sabtu, 27 Januari 2018

Bukan Anak Pintar

"Mbak, Fatih itu sebenarnya bukan anak yang pintar, lho. Fatih itu cuma anak yang ingin tau." Fatih tiba-tiba bilang gitu, dengan nada yang ditekankan di 'frase ingin tau'. Lagi diboncengin, malem-malem. Waktu ke depan mau jemput Fafa. Ingat sekali, itu di jalan menjelang kolong rel kereta. Nih anak kepikir tiba-tiba ngomong gini dari mana sih.

"Iya Mbak. Fatih itu cuma penasaran sama banyak hal. Sama gimana caranya mencuci, masak...."

Lucu amat sih nih bocah. I always amaze with his words and enthusiasm. Tumbuh sehat ya dek. Teruslah penasaran tanpa khawatir apa kata orang.


Bersyukur sekali, meski tidak melihat pertumbuhan Fatih dalam banyak hal dari lahir sampai usia 8 tahun, hampir setahun terakhir Allah beri kesepatan untuk sering membersamai Fatih. Maaf ya dek kalau main kita kurang banyak :")

Harusnya ditulis kemarin,
26 Januari 2018

Jumat, 19 Januari 2018

Bagaimana?


Bagaimana menahan tumpah, tapi tak meninggalkan sesak
Bagaimana mengomunikasikan empati, sedang masih sulit kelola emosi
Bagaimana menjelaskan apa yang dirasa, tapi tak mengeluarkan suara
Bagaimana membicarakan kita, tanpa khawatir kata mereka
Bagaimana memahami persona, kalau tak tahu untuk apa
Bagaimana cara bercerita, tanpa mengganggu bekerja
Bagaimana mengoreksi, tapi tak membuat sakit hati

Bagaimana?
Depok, 12.07
19 Januari 2018

Jumat, 12 Januari 2018

Laut

Dari awal, saya tahu bahwa laut akan mengingatkan saya pada banyak hal.
Pada pantai-pantai Jogja yang jaraknya bisa-dan biasa-ditempuh dengan motor.
Pada penyeberangan Jawa-Sumatera menuju Lampung di kelas 3 Aliyah.
Pada pantai dan lautan di Desa Temajuk yang menyenangkan.

Sebagai introver, bepergian bukanlah keinginan yang benar-benar membuat sesak saking inginnya. Belakangan, saya merasa sangat introver. Ditambah badan yang kurang nyaman secara kesehatan pekan ini membuat saya semakin malas berinteraksi. Malas membahas hal-hal. Malas memikirkan perjalanan. Menjadi tidak excited atas hal-hal yang terjadi di pekan ini.
Tapi tentu saja, saya berusaha untuk terus mengondisikan diri untuk terus bersyukur.

Perasaan-perasaan belakangan ini membuat saya melakukan tes mbti lagi dan hasilnya ternyata introver saya 79%. Hahaha, besar, ya.
Perasaan-perasaan ingin mengambil jarak dan berenang dengan pemikiran sendiri muncul, dengan perasaan tenang bahwa saya tidak sendirian, karena di sekeliling saya ada banyak orang. Hal-hal yang muncul di sekitar menjadi pemicu terkenangnya banyak hal. Kali ini, laut.

Laut mengingatkan saya pada pantai di Desa Temajuk. Pada anak-anaknya. Pada kapal-kapalnya. Pada penyebrangan dengan kapal feri ketima yang dibilang feri adalah kapal perahu kayu yang bisa ditumpangi truk dan mobil (oh itu amazing sodara-sodara!). Pada dermaga camar bulan dan pantai maludin. Pada bebatuan Batu Nenek. Pada saat-saat surut air laut yang menyebabkan kami turun ke bawah dermaga dan mengambil kerang-kerangan atau makhluk hidup kecil yang terindra oleh mata di tepian pantai yang surut. Pada cerita anak-anak angkat pak Jumli yang mereka mah ikut ngelaut malem hari amunisinya jaket aja gak cukup buat jadi amunisi. Pak Jumli-nya santai weh dak pake kaos alias telanjang dada. Dah biasa, ndak akan kedinginan terterpa angin laut :")
Pada Temajuk dan ubur-uburnya yang dimakan. Pada....naskah saya tentang rujak ubur-ubur Temajuk yang tidak lolos seleksi pelatihan menulis cerita anak :"

Laut mengingatkan saya pada Jogja. Betapa banyak pantai di Jogja yang biasa dicapai oleh mahasiswanya hanya dengan motor. Yang ramai dan sepi. Yang pasirnya biasa, sangat hitam, atau putih. Yang ditempuh untuk bermalam maupun untuk apel pagi. Yang menjadi tempat-tempat pelarian memanjakan bagi sebagian orang-yang sudah kadung kepikiran banyak hal maupun kadung impulsif.

Laut mengingatkan saya saat studi kolaboratif ke Lampung 6 tahun silam. Lama sekali, ya itu semua sudah berlalu. Saat kejadian memanjat bukit di suatu pulau, tidak ikut foto angkatan, ramai-ramai berangkat jam 2 pagi, berfoto di atas feri. Foto kelas, divisi, tim, angkatan, fan berbagai foto lainnya. VCD karaoke bus yang membuat guru ikut berdendang. Guru-guru ikut tampil berpensi dengan kisah lama. Pulang dari Lampung dan ketika semua lelah di kelas, teman saya menahan lelahnya karena jadwal khutbah jumat. Waktu berlalu cepat sekali.

Ada banyak hal yang sudah terlewat. Barangkali hari ini pun suatu ketika akan saya tulisakan juga. Tentang laut yang ini. Semoga kearifan dan kebijaksanaan hidup bertambah seiring berjalannya waktu.

Kapal laut-entah apa namanya
12 Januari 2018
08.41