Sabtu, 17 Februari 2018

:")

pada suatu malam yang diliputi oleh kecemasan dan kekhawatiran
disertai ngantuk yang menyerang mulai siang
saya merasa senang sekali Allah beri screen momentum chrome seperti ini :")

Terima kasih ya Allah. Semoga segala sesuatunya lancar.


setelah menutup trello-trello
dan pertama kalinya (semoga terakhir juga) 
pulang dari Badr dengan pintu belakang komplek perumahan sudah ditutup

untuk Kamis, 15 Februari 2017
sampai jumpa dengan keadaan lebih baik, insya Allah

Senin, 12 Februari 2018

Kapan Tidak Ingat Mati

A: "Kapan seseorang itu nggak ingat mati?
Z: "Simpel aja sih, waktu ketawa, misalnya."

-percakapan di ruang tebi, udah lumayan lama sih
lama nggak nulis, banyak yang bisa diceritakan, sebenarnya

Minggu, 04 Februari 2018

Oliver Jeffers dan Buku-Bukunya

gambar dari sini

  • About Oliver
Beerawal dari share-an di suatu grup tentang titip menitip buku di kinokuniya Alih-alih mencari referensi, saya justru melihat-lihat buku anak (dan membandingkan dengan bookdepository).
Lalu saya menemukan...buku-bukunya Oliver Jeffers.

Berawal dari ketertarikan terhadap buku yang berjudul How to Catch a Star, lalu menemukan beberapa buku yang mirip style covernya. Maka saya mencari tau tentang Oliver Jeffers dan menemukan beberapa situs tentangnya dan karya-karyanya.


Setelah kepo sinopsis-sinopsis buku dari brief yang ada di bookdepository, saya menemukan spoiler-spoiler isi bukunya dari laman http://www.oliverjeffers.com/picture-books/ dan amaze dengan karya-karyanya. Beberapa yang jadi wishlist adalah Here We Are, A Child of Books, The Day The Crayons Came Home, The Heart and The Bottle, dan...tentu saja How to Catch A Star. Bisa jadi ada buku lain yang menarik tapi saya menahan diri buka satu-satu karena khawatir sama wishlist yang semakin banyak *lah.
gambar dari sini

Here We Are saya tertarik soalnya membahas tentang alam semesta tempat kita tinggal, dan ilustrasinya yang begitu menyeluruh dan detail. A Child of Books karena spoiler halamannya yang ada di sini yang salah satunya bisa dilihat di gambar paling pertama. 

gambar dari sini

The Day The Crayons Came Home karena idenya kreatif bangeeet. Imagine bahwa bagaimana jika semua krayon yang dimiliki oleh seorang anak bernaa Duncan pergi dari rumah Duncan, ada yang karena ingin meliat dunia luar dan merasa dirinya membosankan (warna pea green), ada yang karena berantem merasa dirinya warna matahari dan ingin membuktikannya ke matahari (orange and yellow, dan akhirnya mereka tahu bahwa warna matahari adalah..warna hot! wkwk), dan krayon berwarna lainnya yang uniknya krayon-krayon ini ngirim kabar juga ke Duncan dengan postcard. Aku berpikir bahwa dari judulnya, nanti akan ada episodde bahwa si krayon-krayon ini balik ke rumah Duncan. 
gambar dari sini


The Heart and The Bottle karena ceritanya mengisahkan seorang anak perempuan yang ingin meletakkan hatinya di dalam botol untuk mengamankana hatinya. Aku penasaran sih kisah selanjutnya gimana si anak ini dengan hati yang dia taruh di botol itu. Terakhir judul yang How to Catch A Star tentu saja karena aku suka bintang di langit dan cerita di sini mengisahkan keinginan sederhana seorang anak yang begitu menyukai bintang. Ia suka sekali mengamati bintang dari jendela kamarnya dan bermimpi bisa berteman dan bermain bersama bintang. Akhirnya dia membuat rencana agar bisa menangkap satu bintang untuk dirinya.
gambar dari sini
Saya pernah ngobrolin soal cerita anak dari luar negeri bersama salah seorang editor di Noura. Beliau waktu itu bilang cerita anak dari luar itu sifatnya menghibur dulu, kalau di sini masih lebih banyak yang sifatnya memberi informasi dan pelajaran lebih dulu. Masih sedikit sekali yang menghibur, begitu katanya. Waktu lihat-lihat buku Oliver Jeffers ini saya kembali ingat kata-kata beliau. Betapa lepasnya imajinasi penulis seperti Oliver Jeffers tapi masih bisa dimengerti dan tetap logis untuk ranah imajinasi. *nahlho bingung kan. 

Sabtu, 03 Februari 2018

Sabtu, 4 Februari 2017

Sabtu, 4 Februari 2017. Sudah setahun berlalu.
Waktu berlalu cepat sekali. 

.
.


dan tanpa sengaja hari ini pakai baju yang sama
dan masih ingat rute setahun lalu: st. pocin-tokobuku-lapangan rektorat UI-mushala RIK-st.pocin-st.bogor-angkot-ketemu di tengah jalan-nyari foresthree-yg lain karaoke dan sa pulang naik bus bogor rambutan-dijemput di al baliyah
*kenapa ya hal-hal ndak teralalu penting kekgini ingat? apakah ini perks of being ISFJ(?)

3 Februari 2018

Perpisahan Itu

"Perpisahan itu, ketika salah satu berhenti mendoakan. Sebaik-baik tempat ketemu itu di surga."
-Nusaybah Amatullah, walau sempat juga ia nyebut kalimat pertama dengan sumber Yasir Abdan Syakur

Barangkali, lain waktu saya hendak menuangkan beebrapa pikiran tentang kalimat-kalimat ini.

tulisan ini termasuk salah satu bagian dari #googlekeeping

Prioritas Hidup

"Muadz tahu bahwa prioritas hidupnya adalah bagaimana mempersiapkan mati dengan khusnul khotimah." (Muadz bin Jabal)

Ima mengakhiri presentasi nama sprint 15 TemanBisnis dengan kalimat itu. Tentang prioritas. Yang juga perlu direfleksikan ke diri sendiri.

#temanbisnis #googlekeeping
tulisan ini termasuk salah satu bagian dari sini



GoogleKeep-ing

Saya sering sekali meng-keep apa-apa di google keep. Instead of menggunakan aplikasi notes bawaan hp, mencatat di google keep menyenangkan karena bisa sync ke mana-mana selain hp; di aplikasi laptop maupun di browser.
Sudah lama sekali rasanya pingin mengkliping apa-apa yang ditulis di sana ke sini. Mengklip apa-apa yang tercapture dalam cerita sehari-hari, daripada tidak menulis sama sekali.

Semoga tidak jadi wacana. Dan, maaf maaf kalau kadang jadi banyak tumpah. Lha, itu kan di atas udah ada slogannya; writing like no one's watching.


Sabtu, 27 Januari 2018

Bukan Anak Pintar

"Mbak, Fatih itu sebenarnya bukan anak yang pintar, lho. Fatih itu cuma anak yang ingin tau." Fatih tiba-tiba bilang gitu, dengan nada yang ditekankan di 'frase ingin tau'. Lagi diboncengin, malem-malem. Waktu ke depan mau jemput Fafa. Ingat sekali, itu di jalan menjelang kolong rel kereta. Nih anak kepikir tiba-tiba ngomong gini dari mana sih.

"Iya Mbak. Fatih itu cuma penasaran sama banyak hal. Sama gimana caranya mencuci, masak...."

Lucu amat sih nih bocah. I always amaze with his words and enthusiasm. Tumbuh sehat ya dek. Teruslah penasaran tanpa khawatir apa kata orang.


Bersyukur sekali, meski tidak melihat pertumbuhan Fatih dalam banyak hal dari lahir sampai usia 8 tahun, hampir setahun terakhir Allah beri kesepatan untuk sering membersamai Fatih. Maaf ya dek kalau main kita kurang banyak :")

Harusnya ditulis kemarin,
26 Januari 2018

Jumat, 19 Januari 2018

Bagaimana?


Bagaimana menahan tumpah, tapi tak meninggalkan sesak
Bagaimana mengomunikasikan empati, sedang masih sulit kelola emosi
Bagaimana menjelaskan apa yang dirasa, tapi tak mengeluarkan suara
Bagaimana membicarakan kita, tanpa khawatir kata mereka
Bagaimana memahami persona, kalau tak tahu untuk apa
Bagaimana cara bercerita, tanpa mengganggu bekerja
Bagaimana mengoreksi, tapi tak membuat sakit hati

Bagaimana?
Depok, 12.07
19 Januari 2018

Jumat, 12 Januari 2018

Laut

Dari awal, saya tahu bahwa laut akan mengingatkan saya pada banyak hal.
Pada pantai-pantai Jogja yang jaraknya bisa-dan biasa-ditempuh dengan motor.
Pada penyeberangan Jawa-Sumatera menuju Lampung di kelas 3 Aliyah.
Pada pantai dan lautan di Desa Temajuk yang menyenangkan.

Sebagai introver, bepergian bukanlah keinginan yang benar-benar membuat sesak saking inginnya. Belakangan, saya merasa sangat introver. Ditambah badan yang kurang nyaman secara kesehatan pekan ini membuat saya semakin malas berinteraksi. Malas membahas hal-hal. Malas memikirkan perjalanan. Menjadi tidak excited atas hal-hal yang terjadi di pekan ini.
Tapi tentu saja, saya berusaha untuk terus mengondisikan diri untuk terus bersyukur.

Perasaan-perasaan belakangan ini membuat saya melakukan tes mbti lagi dan hasilnya ternyata introver saya 79%. Hahaha, besar, ya.
Perasaan-perasaan ingin mengambil jarak dan berenang dengan pemikiran sendiri muncul, dengan perasaan tenang bahwa saya tidak sendirian, karena di sekeliling saya ada banyak orang. Hal-hal yang muncul di sekitar menjadi pemicu terkenangnya banyak hal. Kali ini, laut.

Laut mengingatkan saya pada pantai di Desa Temajuk. Pada anak-anaknya. Pada kapal-kapalnya. Pada penyebrangan dengan kapal feri ketima yang dibilang feri adalah kapal perahu kayu yang bisa ditumpangi truk dan mobil (oh itu amazing sodara-sodara!). Pada dermaga camar bulan dan pantai maludin. Pada bebatuan Batu Nenek. Pada saat-saat surut air laut yang menyebabkan kami turun ke bawah dermaga dan mengambil kerang-kerangan atau makhluk hidup kecil yang terindra oleh mata di tepian pantai yang surut. Pada cerita anak-anak angkat pak Jumli yang mereka mah ikut ngelaut malem hari amunisinya jaket aja gak cukup buat jadi amunisi. Pak Jumli-nya santai weh dak pake kaos alias telanjang dada. Dah biasa, ndak akan kedinginan terterpa angin laut :")
Pada Temajuk dan ubur-uburnya yang dimakan. Pada....naskah saya tentang rujak ubur-ubur Temajuk yang tidak lolos seleksi pelatihan menulis cerita anak :"

Laut mengingatkan saya pada Jogja. Betapa banyak pantai di Jogja yang biasa dicapai oleh mahasiswanya hanya dengan motor. Yang ramai dan sepi. Yang pasirnya biasa, sangat hitam, atau putih. Yang ditempuh untuk bermalam maupun untuk apel pagi. Yang menjadi tempat-tempat pelarian memanjakan bagi sebagian orang-yang sudah kadung kepikiran banyak hal maupun kadung impulsif.

Laut mengingatkan saya saat studi kolaboratif ke Lampung 6 tahun silam. Lama sekali, ya itu semua sudah berlalu. Saat kejadian memanjat bukit di suatu pulau, tidak ikut foto angkatan, ramai-ramai berangkat jam 2 pagi, berfoto di atas feri. Foto kelas, divisi, tim, angkatan, fan berbagai foto lainnya. VCD karaoke bus yang membuat guru ikut berdendang. Guru-guru ikut tampil berpensi dengan kisah lama. Pulang dari Lampung dan ketika semua lelah di kelas, teman saya menahan lelahnya karena jadwal khutbah jumat. Waktu berlalu cepat sekali.

Ada banyak hal yang sudah terlewat. Barangkali hari ini pun suatu ketika akan saya tulisakan juga. Tentang laut yang ini. Semoga kearifan dan kebijaksanaan hidup bertambah seiring berjalannya waktu.

Kapal laut-entah apa namanya
12 Januari 2018
08.41

Kamis, 11 Januari 2018

Jatuh

2017. Rabu. 11 Januari.
Saya jatuh dari motor daerah sebrang gama wisata. Jalan raya depan kampus. Jalanan habis hujan.
Malam itu selepas rapat.
Dengan perasaan mengejar jilid skripsi malam itu agar besok bisa selesai #demi yudisium.
Dengkul kanan saya luka, sampai merembes hingga baju terluar. Tangan saya luka berbekas hingga hari ini.

2018. Rabu. 10 Januari.
Saya jatuh, bukan dari motor, tapi bersama motor.
Jalan perumahan depan badr. Ini aneh sekali sih, sudah sampai, tinggal parkir aja, lalu sesuatu terjadi dan, ya itu tadi, jatuh.
Pagi itu mengejar rapat.
Dengan perasaan tidak karuan yang menimpa seorang introver (dan membuatnya jadi agak galak) akhir-akhir ini.
Dengkul kiri saya yang awalnya saya kira hanya lecet ringan, ternyata ada darah juga yang sampai rembes meski tidak sampai baju terluar.
Sama-sama ngilu-gimana-gitu.

Kamis, 04 Januari 2018

Babysitting

After babysitting for a while. Actually babysitting in my term just now is how to make sure the neccesities of my two younget brothers.

Ada acara pengajian khitanan di rumah sepupu Ummi. Hm, kalau diceritain silsilahnya panjang sih. Tapi intinya karena Ummi, Abi, dan Mbah Putri pergi, Fatih diserahkan ke saya. Dalam keadaan belum makan.

Sebenarnya tantangan terbesar bukan urusan dia belum makan. Ini mah mudah karena makanannya juga udah ada. Cuma how to deal with an active boy (yang mudah bosan) is something. Dan yang paling kerasa adalah ngebujuk dia sikat gigi bisa lebih dari setengah jam *hiks.

Sampai akhirnya dia  mau tidur, nyari baju yang pewe buat tidur, gamau tidur di tempat biasa, lalu akhirnya mau, angkat-angkat kasur (karena tidurnya di ruang tengah rumah Mbah yang kasurnya mesti dipindahin dulu), minta dipijetin (tapi tetep aja nanyain terus Ummi kapan pulang karena maunya dipijetin Ummi), sampai akhirnya aku ketiduran lalu....dibangunin adik yang lebih besar untuk minta temenin ke kamar mandi. And i feel...surprised. Karena tadi juga dia susah dibujuk sikat gigi. Meskipun aku akui ku ngantuk dan sempet merasa, heu kenapa kamu dak berani ke sana sendiri wkwk.

Saya melihat adik paling kecil, sudah lelap tertidur. Rasanya antara jadi lebih tenang campur jadi ngerasa, ya Allah hal ginian tu baru sepersekian dari rutinitas yang Ummi lakuin seharian. belum kalau ada yang mesti Ummi kerjain, tapi harus nidurin adek-adek dulu. Proesnya bisa sejam sendiri. Huff, segini aja udah lelah wkwk, lemah sekali rasanya. Ditambah merasa bahwa setiap ibu selalu punya peran spesial di mata anak-anaknya. Kayak tadi itu contohnya dipijitin. Bakal beda lah buat dia kalau dipijitin tapi sama aku. Entah mengapa ya naturally hal-hal kayak gitu kayaknya terjadi di semua anak.

Lalu aku mengantuk, tapi mesti jaga pintu buat bukain kalau pasukan yang tadi ke khitanan sudah pulang. Oh, jadi tau rasanya ngantuk dan jaga pintu (lalu beneran ketiduran dan terbangn saat pasukan itu datang :")). Kebayang kalo Ummi nungguin pintu sampe Abi pulang. Kebayang rasanya Fitri yang nungguin Ray di Rembulan Tenggelam di Wajahmu *lah bandingannya novel, wkwk. Tapi intinya, jadi tahu sih perjuangan bagian itu.

Pada titik ini aku merasakan posisi Ummi. Sesaat dan sedikit sih. Tapi kerasa banget emang jadi Ibu tuh banyaaak sekali pengorbanannya.

Seoga Allah selalu meridhoi setiap apa yang Ummi lakukan. Terutama untuk kami, anak-anaknya.

ditulis di Magelang, 30/12/2017
lalu berakhir ketiduran
dan diteruskan barusan 
#daripadangumpuldidraft


The Awesomer: Ruang Baca - Terbangnya Burung




Saya tahu akun instagram ruangbaca dari katakerja. katakerja sendiri merupakan sebuah perpustakaan di Makassar, yang digagas Aan Mansyur-dengan konsep yang menarik. saya tahu katakerja dari matanajwa edisi Tak Sekedar Membaca. kala itu saya tidak sengaja melihat tv asrama pasca pulang NLC RK. pasca itu saya jatuh cinta sekali pada edisi matanajwa itu. tapi saya tidak akan bahas lama di postingan ini. lain waktu saja di lain postingan.

saya tahu ruangbaca bukan dari postingan foto instagramnya, melainkan justru tulisanya di medium soal budaya baca yang menyebutkan dibacakan cerita oleh ibu ketika kecil (oh itu manis sekali!). sebagai orang yang ingin terjun ke bidang literasi-meski entah wacana sampai kapan ini-, oh! saya jadi jatuh cinta juga dengan tulisannya. meskipun sampai sekarang saya belum tahu hubungan ruangbaca dengan katakerja. tapi yang jelas, mereka berhubungan. cukup saya tahu itu saja dulu.

Dan...ruangbaca suka bikin musikalisasi puisi ternyata! Dari yang pernah saya lihat, ini favorit saya. Dan..ah kujadi ingat pernah beberapa kali latihan (dan tampil wkwk) musikalisasi puisi di FLP Jogja hehe. Suka, dan jadi kangen, dan jadi pingin ke Makassar.

Sudah itu aja. Mencoba mencari katarsis testing yang subhanallah akhir-akhir ini :")


-sudah ingin dipos dari kemarin atau kemarinnya

Kamis, 21 Desember 2017

2017

saya kangen nulis, sesungguhnya.


foto di atas adalah foto hujan tadi siang menjelang zuhur. nggak kelihatan hujannya tapi ternyata, ya.
akhir-akhir ini sering hujan. dan hal yang menyenangkan ketika hujan, selain hujannya nggak mengganggu perjalanan berangkat dan pulang ke badr, adalah menikmati hujan itu sendiri (sendiri beda dengan sendirian, pls, sendiri refer to hujan). di tepi jendela sembari menuliskan apa-apa yang ingin ditulis. atau sembari berkontemplasi diri.

sayangnya, hal itu mahal sekali rupanya akhir-akhir ini.

kemarin, saya baca postingan masgun yang ini. saya terfokus pada bagian masgun bercerita tentang tumblrnya yang sudah menemani berbagai fase hidupnya. dan sesungguhnya, hal yang sama juga terjadi pada laman tempat saya menulis ini. haha, sebenarnya saya punya blog dari jaman sd kelas lima. tapi multiply gak eksis lagi buat blog publik dan saya hijrah ke blogspot pada 2011 sebelum sempat membackup tulisan-tulisan sepanjang kelas 5 SD sampai pertengahan sma.

kadang di saat saya merasa inferior, ada pikiran-pikiran minder seperti keraguan apakah saya bertumbuh selama 2017 ini. kemarin saya sempat merasa sedih karena merasa gini-gini aja. tapi setelah dipikirkan lebih jauh, tentu saja ada yang bertumbuh dari diri ini, walau hanya kecil sekali bagian itu. tapi, apapun itu namanya, saya ingin tidak mengingat-ingat 2017 sebagai perasaan merasa gitu-gitu aja karena kemudian saya khawatir jika demikian, jangan-jangan saya tidak termasuk orang yang bersyukur atau bahkan juga tidak peka dengan apa yang sudah Allah karuniakan.

2017 dimulai dengan agenda-agenda revisi skripsi, mengejar yudisium, jatuh dari motor ketika mengejar jilid skripsi, mulai kepo lowongan kerja, menuntaskan agenda sensus flp, ke bandung acara flp, bantu temen nyelesein masalahnya (yang sekarang pun kuelum tahu sudah bisa disebut berakhir atau belum:")). kemudian yudisium terkejar, mengurus berkas wisuda, foto-foto setelah ambil toga, wisuda, kebingungan pasca lulus, daftar-daftar kerja, perpisahan sama anak kontrakan (karena husna mau pindah), bertemu teman-teman, tes kerja, tes psikologi, daftar dan wawancara magang (di jogja dan di badr), tiba-tiba cabut sesaat dari jogja (dan berlanjut ke cabut sesungguhnya), shortcourse-intern-part time-probation-full time di badr, lpj flp, mendapat kabar teman-teman yang menikah dan hamil, curhat-curhat bersama teman-teman, mendatangi pernikahan beberapa teman, semakin sering mengirimkan postcard dan memulai postcrossing, berada dalam tim produk badr dan belajar jadi bagian development team, temanbisnis, paytren academy, yawme, mengenal testing, user story, dan trello-jira-ing, memulai rutinitas di rumah, perasaan-perasaan sepi kalau ingin menumpahkan sesuatu ke teman tapi aku sudah lagi tidak beratapkan kosan berisi 10 orang, atau asrama ber-30 atau kontrakan ber-11, perasaan-perasaan keinginan untuk menjadi penulis buku anak, mendatangi fdii 2017 sendirian, perasaan kangen jogja dan seisinya, perasaan kangen dengan temen gycen, perasaan-perasaan bingung menghadapi kehidupan-haha, perasaan bete kalo diledekin :(, berusaha nyari waktu yang enak untuk (menyusul) mudik karena taget kerjaan dan device kantor yang kupegang, perasaan-perasan menjalani rapat-rapat review-planing-desain sprint-ngejar acceptance test dan testing, dan tentu saja masih banyak lagi hal yang terjadi di 2017 :")

jika dipikir-pikir, banyak sekali hal yang terlintas di benak. pada 2017, mulai semakin terasa teman-teman yang mulai berkeluarga dan hendak menjadi ibu, juga kakak-kakak yang sudah melahirkan dan sharing seputar anaknya di grup ataupun media sosial, berita kelahiran dan berita duka, berita pada beberapa hal yang pada akhirnya terlihat titik ujungnya :"), perjalanan pulang pergi badr yang seringkali memunculkan pertanyaan yang membenak begitu saja  tentang banyak hal sepanjang perjalanan, tentang lokasi sekolahan kalau lewat sekolah, tentang memilih sekolah, tentang kenapa orang mau menikah, bagaimana kakak tingkat yang saya kenal bisa ngantor pergi pagi kerja di Jakarta sementara anaknya berdua di rumah-belakangan saya tahu ada pengasuhnya-tapi kakakny sering qtime sama anaknya, perasaan nggak mau telat; selain karena itu bukan karakter muslim yg menepati janjinya, juga karena malu sama kakak yang rumahnya lebih jauh-tapi ngga pernah telat, perasaan begini rasanya kerja, perasaan oh kerja di tim ini polanya begini, di tim itu polanya begitu, perasaan menyesuaikan diri dengan tim, budaya tim, dan PO, perasaan wah kakak itu hebat sekali jadi full time mother, perasaan kasihan sama anak yang ibunya kerja pulangnya malem, dan pikiran-pikiran betapa working mom yang bisa so tough di kerjaan dan di rumah itu hebat bangeeeet. haha, beberapa poin terakhir tentu saja masih selentingan pikiran yang belum pernah diklarify ke orangnya langsung. namanya juga ini curhat.

atau juga berita yang entah mengapa belakangan sering (banget) terdengar atau dibaca; atau memang diberitakan karena kenal. seperti berita anak-anak yang mengalami kelainan saat lahir, anak-anak kecil yang harus masuk NICU atau dirawat karena kanker, dan hal-hal semacamnya yang membuat, ya Allah, sungguh, betapa kesehatan adalah nikmat yang besarnya sungguh tak ternilai. maka demikianlah calon orang tua sebegitu ikhlasnya tidak terlalu mementingkan anaknya perempuan atau lelaki. tapi satu: yang penting sehat, dan kelak jadi anak shalih. ah, juga berita orang-orang yang mendahului. tua atau muda, kenal atau tidak, orang yang dikenal dan dikenang banyak orang karena kebaikannya. perasaan-perasaan jerih melihat ambulans dan mobil jenazah. perasaan-perasaan takut meninggal...

atau juga perasaan-perasaan oh kalau di fase itu akan seperti itu, ya; seperti melihat kakak-kakak di badr yang sudah punya keluarga kecil, melihat ummi yang kayaknya ngga punya capek, melihat abi yang bela-belin suatu hal untuk keluarga, melihat fahri yang bersungguh-sungguh menghafalakan kaidah tajwid untuk ujian tahin qiraatinya, melihat fatih yang rasa-rasanya perkembangan bicara dia yang bagus adalah karena dia punya orang-orang yang mendengarkan :"), melihat orang-orang yang berjuang untuk kehidupannya, melihat PO yang ambi dengan target-target kuartal, such a reflection buat diri saya sendiri pada semua hal itu; bagaimana kelak menjalani life balance saat berkeluarga (sekarang masih single aja kerasa harus berjuang buat life balance), bagaimana kelak kalau sudah berkeluarga, sudah jadi ibu, sudah punya anak, apakah nanti aku bisa jadi orang tua yang selalu sabar-termasuk untuk sabar menghadapi setiap (setiappppp) pembicaraan anak, bagaimana bila kehidupan sedang terlihat seperti tidak bersahabat dengan kita? tentu akan butuh suport system dari orang-orang terdekat, bagaimana kalau aku sedang pada fase tidak semangat bekerja?

atau juga perasaan sebagai anak rumah yang semakin menyadari perasaan 'anak-anak tidak pernah main-main saat bermain'; semacam perasaan imbalance yang kadang kerasa kalau saya mau main sama adik, dia asik main hp hiks. atau ada saat tertentu dia pingin ajak main saya, sayanya yang pas males dan pingin main hp. haha. deal with anak-anak itu perlu keinginan yang sungguh-sungguh. kadang sempet juga kepikiran kalo tau ibu-ibu beradu pendapat di sosmed tu kayak, mending adem ayem gatau masalah di sosmed aja kali ya, biar ngurus anaknya tenang ga kepengaruh sama adu pendapat di sosmed atau juga ga kepengaruh media sosial yang berakibat membandingkan anak orang dengan anak kita.

saya barangkali belum bisa mengukur saya adalah pribadi yang bertumbuh dengan baik atau tidak di 2017 ini. tapi kalau saya tidak bertumbuh sedikit pun, sudah pastilah saya adalah orang yang merugi.
2017 isinya ledakan-ledakan pemikiran ini. tentu saja barangkali dalam penulisannya ada yang terlewat (yaiyalah). sejatinya dalam perjalanan, belajar nggak mesti apa yang kita kerjakan sendiri, yang kita improve di diri sendiri dalam teknis kerjaan, dalam pengembanagn kapasitas. saya jadi memahami bahwa bertumbuh juga soal pemahaman-pemahaman. soal megambil pelajaran dari kebaikan dan perjuangan orang lain. juga soal belajar menghadapi orang lain yang beragam macamnya.

berlompatan di perjalanan pulang kemarin,
diselesaikan di badr hari ini
masih sepi di badr :")
8.40an

Senin, 11 Desember 2017

Kangen

Sampai rumah mendekati pukul delapan.
"Mbak, tadi Fatih pulang shalat langsung nanya, Mbak Fitri udah pulang belum?"
"Pulang shalat apa, Mi?"
"Tadi, shalat isya."

Fatih lagi ngamplas (mainan) stik es krim (entah tujuannya apa, itu obsesinya beberapa hari terakhir).
"Kenapa Dek nyariin Mbak Fitri?"
"Kangen." Masih sambil ngamplas.
"...."
"Emang kenapa kangen?"
"Kangen aja, emang nggak boleh kangen aja?" Masih sambil ngamplas.


11/12/2017, 22.22
Rumah yang sedang ditukangin;
besok update tebi;
akhir-akhir ini kudatang siang ke badr untuk suatu alasan

Kamis, 07 Desember 2017

7/12/2016 dan Hari-hari Setelahnya

Menjejak Desember; maka saya tidak lupa hari-hari kala itu.
Suatu hari setelah sekian lama disemangati oleh dosen untuk submit Desember, tapi sempat merasa terabaikan beberapa waktu. Suatu Selasa, saya ingin pergi dari keramaian orang-orang kontrakan (yang ramai berisikan 11 orang) untuk menenangkan diri dan memaksa berprogress.

Lalu saya nginap di rumah Afifah.
Tapi, apa yang bisa dilakuakn bocah semester sembilan yang kemampuan ngodingnya belum fasih dan tidak punya data yang hendak diolah. Menatap nanar muka layar sambil ngga tau harus gimana :"""

Malam itu, yang awalnya diniatkan akan begadang, jadi gagal karena saya stuck tidak tau harus gimana. Besoknya pagi-pagi pulang ke kontrakan dengan rasa-rasa sedih gimana gitu. di prodi deadline akhir submit naskah unttuk bisa sidang Desember (dengan kata lain juga wisuda Februari) adalah tanggal 9 (malah sempat ada gosip tanggal 2). Saya pulang tanpa harapan. Lalu sempat saling menyemangati dengan +Maryam Zakkiyyah lewat DM instagram itu, kira-kira pukul 7 pagi, setelah sebelumnya mengirim postingan chibird yg unyu dan cukup mendongkrak diri.

Sekitar pukul 9 dosen saya tiba-tiba mengirim pesan untuk bertemu jam 11. Saya iyakan dengan setumpuk perasaan bersalah sekaligus bertanya-tanya dalam hati, Ibu, mana datanya yang harus saya olah Ibuuuu hiks hiks. Karena data yang saya olah itu semacam data dari lab ibunya kala S3 dulu dan ngambilnya dari server ibunya. Tapi sampai hari itu belum dapat juga.

Pukul 11 saya ke gedung S2/S3, bertemu ibu dosen pembimbing. Kalimatnya tidak panjang, tapi sangat berarti. Intinya, saya harap Fitri bisa sidang bulan ini. Dibuat dulu naskahnya, nanti sambil kita susul dengan yang ada hasil penelitiannya.

I dont have any words. Saya ngga tau harus gimana. Tapi tentu saja harus dipatuhi. Ibu dosen sudah berusaha membuat saya bisa tuntas skripsinya secepat mungkin. Dosen saya merencanakan akan menyanggupi hadir di hari-hari terakhir pekan sidang agar saya tetap bisa mempersiapkan naskah sampai hari terakhir banget sidang.

Tidak ada 24 jam, keputusasaan saya Allah ubah dengan secercah harapan.

Lalu pekan-pekan panjang dimulai. Tahu rasanya ngumpulin berkas naskah yang akan disiap sidangkan tapi belum selesai :" ? Ah, kekhawatiran saya dari hari ke hari memuncak. Saya menyembunyikan berita ini dari sesiapapun karena terlalu takut diselamatin mau sidang, dibarakallahin, diledekin bentar lagi lulus, karena saya tahu seberapa nekat sederhana naskah saya yang sesungguhnya belum selesai itu.

Mana awalnya sempat ngga boleh submit karena kartu bimbingan saya dari awal emang dipegang dosen pembimbing dan hari H ngumpulin berkas ibunya bilang nanti saya susulin sementara petugas TU kayak gak yakin gitu :""

suatu masa saya sempat baru
terbangun dan kaget karena
ada pesan dari dosen.
Jam 2 pagi cobaaaa :""
Perjuangan dosen yang juga
seorang ibu yang punya bayi kecil :")
Waktu berjalan. Saya dan dosen saya berpacu bareng-bareng. Ada masa saya ngintilin dosen banget sembari beliau waktu itu juga bimbing beberapa anak S3, atau sesi tambahan presentasi tugass akhir matkul adik-adik tingkat (seperti yang diketahui bersama Desember adalah masa ujung dari suatu semester di mana pengumpulan tugas mulai mainstream). Ada masa bimbingan di tempat penitipan anaknya (Dek kamu sekarang dah bisa apa Dek :"). Ada masa saya ngintilin ibunya sembari ibunya mempersiapkan persiapan ransum buat anaknya :")). Ada masa saya nanya temen cara pikir suatu algoritma tapi tetep aja ngga mudeng. Di kampus, di angkringan deket aula yang dipake bulu tangkis warga sekitar :"""

Ada masa saya tertekan banget nangis-nangis. Ada masa saling menguatkan sama anak ssidang Desember (thanks Amel, Denis, Deni, Rilut, Erwin). Ada masa saya ngga bisa tenang tidur karena sekali nge-run program bisa 3 jam. Kayak gamau rugi habis selesai ngerun satu harus kelar ngerun yang lain. Ada masa saya tambah sering ke perpus teknik sampe perpusnya mau tutup (ini udah agak mulai dari sebelum submit itu sih). Lalu ngerjain di KPFT (terus ke-gap temen gycen :")))).


Ingat sekali H-1, saya telpon Ummi sambil nangis sore-sore. Udah ngga bisa dibendung lagi khawatir dan paniknya, nangis depan perpus teknik. Paginya saya nyerahin draft terakhir, harapannya bisa dikasih feedback mana yang diperbaiki, tapi malah dikasih feedback mana yang ditambahin. Ditambahin cobaaaa gimana gak mau nangis dari mana lagi saya nyari sumbernya. Print naskah buat besok aja bbelum kelar. Apalagi mikirin slide huhu.

Lalu salah satu yang paling diingat, Ibu saya akhirnya bilang minta doa sama teman-teman. Akhirnya H-kurang dari 24 jam itulah saya kabari 2 grup; Gycen Jogja dan Srikandi. Meminta doa setelah meenjelaskan kondisi. Muncul cuma buat itu doang. lalu ga buka wa lagi (sebelumnya juga saya ga buka2 WA sama sekali setelah sempat uninstal WA dan instal lagi krn khawatir dosen saya tiba-iba hubungi ke WA).

Malamnya saya sempat berniat print draft. Tapi ujung-ujungnya belum selesai juga. Di KPFT udah lebih dari jam 8 malam. Saya ngga mau pulang dari kampus terlalu malam karena khawatir pada banyak hal. Akhirnya malem itu secara mendadak saya nginep kontrakan Nikari (karena di sana ada printer jadi kalau mendadak butuh bsia sewaktu-waktu). Dengan perasaan gak enaaak banget sama teman yang belum sidang di kontrakan itu :")

Pada akhirnya malam itu saya masih saja belum bsai menyelesaikan apa yang harus diprint. Saya edit-edit slide, kebangun-tidur secara random. Pada akhirnya nebeng print yang halamannya landscape (karena kalau di rentalan mesti susah ngatur-ngaturnya). Jam 7 ngeprint 4 bundel naskah fix di fotokopian GOR klebengan (favorit :")) dan jam 11.30an baru selesai slidenya. Saya gak nafsu makan tapi terpaksa beli sarapan karena saya gak mau sakit mendadak karena gak ada makanan masuk. Saya paksa diri menahan malu minta bantuan temen (yang saya tahu dia antara sedih dan senang waktu saya akan sidang) minta bantuan beli roti dan susu buat saya konsusi mendekati sidang (karena sidang siang dan tentu saja agak akan sempat makan siang).

Bada zuhur ke kampus. Ke ruangan ibu dosen, dapet briefing macem-macem. Jam 1 kurang sudah  di ruangan sidang. Sempat ketemu temen yang geleng-geeng kepala karena saya masih benerin slide :")

Ada dua kekhawatiran besar menjelang sidang. Pertama, saya takut nggak lulus, karena sebelumnya emang ada yang nggak lulus sidang dan itu tentu rasanya sedih banget :'. Tapi ini yang kemudian saya pasrahkan benar-benar ke Allah bahwa apapun hasilnya semoga saya ikhlas, dan bisa jadi lebih baik lagi. Kedua, saya takut banet ditonton orang banyak. Jadi sidang di ilkom itu sifatnya terbuka dan orang bisa keluar masuk kapan aja. Selain itu mengganggu konsentrasi, bagi saya yang sungguh merasa minder dengan hal-hal ilmiah dan takut nggak lulus ini, hal tersebut sangat mengkhawatirkan.

Tahu, bagaimana Allah beri saya kejutan?
Dosen penguji saya tiba-tiba banget bilang, "Saya nggak suka ada yang keluar masuk di tengah sidang" Lalu beliau ke TU, minta kertas dan spidol, lalu nempel tulisan yang tidak boleh masuk jika sidang sudah dimulai. Ya Allah ini seumur-umur aku nonton sidang kaka tingkat atau teman pas ada bapaknya, ngga pernah aku tau sekalipun bapaknya nulis larangan nonton sidang kalo udah mulai :"
Jadilah waktu itu yang nonton hanya 2 orang; Farah dan Erwin :"))

once upon a time


Waktu berlalu. Tibalah saya pada hari ini. Setelah nyaris satu tahun berlalu sejak kejadian-kejadian itu :")

Rabu, 29 November 2017

Kamu Berbeda

Kamu terlihat beda dari yang lain. Saat orang tersedot perhatiannya pada satu titik, kamu lebih tertarik pada apa yang tidak dilihat yang lain. Aku mencoba melihat arah yang kamu lihat. Tapi aku tak menangkap apapun. Apa yang menarik dengan jendela kaca besar dengan pemandangan malam yang biasa kita lihat sebelum-sebelumnya? Tidak ada yang tampak berbeda.

Belakangan aku tahu yang kamu lihat adalah percikan api dari tukang las pada gedung yang dibangun. Indah, bercahaya, dengan ukurannya yang kecil, katamu. Riuh rendah yang kita dengar di gedung ini, rupanya tidak menarik perhatianmu dibandingkan percik api itu.

Kamu berbeda. Teman-temanmu menyukai menonton saat makan. Tapi kamu lebih suka menikmati makananmu tanpa disambi apa-apa; kecuali barangkali melihat awan dan langit dari jendela. Selebihnya diam. Tidak membaca pesan dari sekian media sosial, tidak scrolling timeline instagram, apalagi sembari membaca headline line today.

Kamu berbeda. Orang-orang menyenangi pergi menghabiskan akhir pekannya. Kamu lebih suka menghabiskannya tanpa pergi kemana-mana. Di rumah, maka cukup. Mematikan ponsel. Memilih buku dari rak bacaanmu.  Bersenandung kecil dan menata apa-apa yang tertinggal berantakan sepekan belakangan. Ah, tentu saja ini bagian yang tidak aku suka. Kamu rapi pada sebagian hal, lalu berantakan pada sebagian yang lain.

Kamu berbeda. Kamu bisa tampak aneh sekaligus menggemaskan saat sedang berpikir keras. Raut wajah kebingungan yang tanpa sadar meggumamkan hal-hal yang kamu kerjakan. Lalu heboh sendiri, lalu bicara sendiri. Juga ekspresi serius yang sungguh menggoda sekali untuk diganggu.

Kamu berbeda. Tapi aku makin lama kesulitan mendeskripsikannya. Eh, barangkali, kalau aku justru tahu banyak perbedaanmu dengan yang lain, bukankah itu malah mencurigakan? Aku tidak perlu mengenalmu terlalu jauh.


dari berbagai hal, termasuk pemaknaan buku 
Mendengar Nyanyian Sunyi-nya Kak Urfa

tentu saja fiksi,
mulai ditulis di code margonda,
di lantai yang bisa lihat sekitar dari ketinggian

29/11/2016


foto ini foto 29 November 2016, tepat setahun lalu
saya masih ingat sekali, sebagaimana biasa saya dan beberapa teman masa itu sehari-hari ke lab untuk mengerjakan skripsi, walaupun akhirnya memang bisa berujung kemana-mana aktivitasnya; bisa saja tidak mengerjakan skripsi tapi malah ngapa-ngapain yang lain.

lalu pukul 5 sore lab tutup. saya belum mau pulang. teman-teman mau pulang.
sebagaimana orang introver, saat-saat seperti ini adalah saat tidak mau bertemu banyak orang.
skripsi tak kunjung kelar; dan bingung menuntaskannya, jika pulang saya akan bertemu orang, karena saya tinggal di kontrakan berisi 11 orang.

lalu saya ambil haluan ke gedung C. kala itu masih gedung baru yang kalau tidak salah baru dipakai jalan 1 semester. saya pun belum pernah merasakan kuliah di gedung baru itu. saya cari ruang yang sepi, ada colokan, dan jika duduk pandangannya berbelakangan dengan orang-orang; menghindari pertemun-pertemuan.

tentu saja tidak sepenuhnya berjalan mulus. saya bertemu satu dua adik tingkat yang saya kenal, hendak mengerjakan tugas kelompok :") bertemu jua dengan teman seangkatan. tetap ada saja yang bertemu lah :"")

lalu senja itu, lupa saya tuntaskan hingga pukul berapa saya pulang

dulu, emang suka ngedokumentasiin foto-foto saat ngerjain skripsi
hal-hal yang saya sendiri anggap sebagai pantas untuk dikenang :""

perasan tidak ingin bertemu banyak orangnya sama,
dengan yang akhir-akhir ini saya rasakan
i don't definetely know the reason
meskipun ada sebagiannya yang saya asumsikan jadi penyebab


Selasa, 28 November 2017

Waktu (yang Cepat Berlalu)

Kita tentu familiar sekali dengan selentingan-selentingan kalimat, "Lho, udah jam segini? Perasaan tadi baru jam sekian" atau "Lho, udah zuhur aja" atau "Cepet banget sih, kayaknya tadi baru datang/mulai". Pada beberapa aktivitas yang dilakukan, ada waktu yang rasanya berjalan cepat sekali tanpa terasa. Hingga tau-tau sudah sore atau bahkan sudah malam. Hingga tau-tau sudah sampai pada batas deadline.

Sama halnya dengan selentingan kalimat "Cepet banget ya udah sekian tahun kita lulus sekolah" saat reuni atau bertemu teman lama. Atau ketika mengunjungi sekolah kembali atau membaca berita dari sekolah yang baru saja menerima/meluluskan siswa angkatan sekian, yang rasanya jauh sekali dari angkatan semasa sekolah kita dulu.

Juga saat kita mengingat-ingat dulu sekolah tahun sekian. Terus tersadar, lho, itu ternyata sudah tujuh, sepuluh, dua belas, atau lima belas tahun yang lalu. Sekarang teman-teman sepantaran sudah banyak yang bekerja, menikah, kuliah lanjut, punya anak -bahkan sudah dua- dan lain sebagainya. Begitu cepatnya waktu berlalu.

Atas semua hal, setelah saya pikir-pikir, yang paling merasakan perubahan waktu ini tentulah orang tua kita. Orang terdekat yang tahu kita bukan hanya sejak kecil, tapi sejak dalam kandungan. Yang masih ingat kejadian-kejadian semasa kita kecil sampai saat ini. Saat lahir, ketika mungkin sakit yang membuat panik, ketika mulai berjalan, ketika barangkali jatuh dan luka, dan ketika-ketika lain yang terus orang tua rasakan sampai pada titik kita sekarang yang telah melalui berbagai hal-yang itupun sudah sering kita akui dengan frase 'cepat sekali' sebagaimana tadi dituliskan.

Ingatan itu semua jauh melampaui ingatan kita yang paling-paling ingat kejadian masa kecil pun tidak terlalu banyak. Yang mengingat masa sekolah menengah atas saja sudah merasa waktu begitu cepat. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana perasaan waktu berlalu cepat yang dirasakan orang tua kita?

Bagi orang tua kita, tentu saja, waktu sungguh cepat sekali berlalu. Pada waktu-waktu yang (akan) cepat berlalu itu, akan kita isi apa? Sebagai hal-hal yang kelak akan keduanya ingat di masa (barangkali) kita tidak lagi bisa selalu ada di sisinya.


ditulis di rumah, diselesaikan di Badr
Cibinong-Depok
tadi pagi hujan
-yang entah dari kapan rintik pertamanya turun itu-
nya awet sekali


Sabtu, 25 November 2017

Bekal

Belakangan, karena pintu belakang yang biasanya dijadikan pintu masuk utama di Badr ditutup untuk perluasan ruang, pintu depan dijadikan pintu utama akses keluar masuk. Dan karena meja tempat tim di mana saya berada ada di ruang depan, saya jadi sering banget ngelihat datang dan perginya orang-orang. Dan belakangan, yang menyita perhatian saya (secara tidak sengaja) adalah bekal.

Sebagai generasi anak sekolah asrama dan anak kuliah yang tidak mukim di rumah 10,5 tahunan, terakhir bawa bekal itu waktu SD. Dan itu pun nyaris nggak pernah nasi kayaknya karena saya dulu sih sok idealis pinginnya makan nasi itu anget. Jadi daripada nasi dingin mendingan bekal roti saja. Jadilah perbekalan jaman SD itu nyaris nggak pernah nasi.

Kemudian suatu ketika beberapa saat setelah wisuda saya ada agenda di Jakarta, Ibu saya bawain bekal. Rasanya aneh banget bawa bekal, wkwkwk. Selama SMP-SMA makan siang selalu ambil dari ruang makan. Selama kuliah juga nggak bekelan.

Waktu yang tadi ke Jakarta itu, awalnya rasanya aneh. Kayak, apa ni aku bawa kotak makan isi bekal. Biasanya kalau lagi libur kuliah dan adik-adik masuk sekolah, ngeliat sih mereka dibawain bekal sama Ummi. Apalagi Fafa (yang karena pingin ngerasain sekolah naik angkot) sekolahnya jauh jadi ga sempet sarapan dan sarapannya pun di sekolah. Bekalnya combo buat sarapan sekaligus makan siang.

Tapi sejak di Badr dan mukim di rumah, jadi tahu rasanya bawa bekal, hampir setiap hari. Tau Ummi nanyain pagi-pagi mau bekal apa. Tau gimana Ummi nyiapin bekal adik-adik. Tau rasanya nyiapin bekal sendiri atau disiapin. Tau rasanya bingung nakar nasi karenaa lebbar piring dan kotak bekal itu dimensinya beda wkwk. Tau rasanya bingung bekal apa ya hari ini. Tau perasaan gemesnya ketika udah nyuci cucian piring kotor rumah tapi kotak bekal sendiri lupa dicuci karena lupa ngeluarinnya.

Dan ketika posisi pintu masuk Badr jadi di depan kalau pas kebetulan datang pagi dan melihat orang-orang berseliweran masuk dan membawa tas tambahan yang isinya bekal. Ada yang di tas khusus bekal, di tas tenteng, atau yang di kantong keresek. Sampai suatu hari saya mengamati orang-orang masuk merasa terharu aja gitu. Bekal yang dibawa dari rumah seperti menyampaikan pesan kasih sayang dari rumah. Pesan yang menjaga yang membawanya, dalam bentuk makanan. Sesuatu yang diharapkan bisa menghilangkan rasa lapar yang membawanya. Sesuatu yang disiapkan ibu atau istri (atau diri masing-masing) dengan perasaan kasih sayang yang tertitip di dalam makanan itu. Rasa haru ini suka muncul saat liat orang bawa, sampai saya sesekali ngerasa terharu lagi waktu lihat orang makan pakai kotak bekalnya :')

Ehe, gatau kenapa, suka merhatiin hal kecil kayak gini. Mungkin ini salah satu ciri introvert person.

Minggu, 19 November 2017

Anak-anak Temajuk

foto dari +Nadiyatus Shofi
Via minta dikirimin suatu foto spesifik waktu di Temajuk. Lalu saya mencari-cari. Dan..ketika mencari nemu foto ini. Saya hitung anaknya, ada 6. Enam anak dalam satu motor. Yang nyetir namanya kalau gak salah Bela, kelas 5 SD kala itu.

Di Temajuk, anak SD naik motor itu biasa. Desa Temajuk sangaaat luas sementara SDnya hanya ada 2. Tidak ada angkutan umum di desa ini. Kalau tidak sekolah dengan diantar, beberapa anak perlu jalan jauh untuk sampai ke sekolah. Sehingga beberapa diantaranya, dengan berbagai tuntutan jadi bisa mengendarai motor. 

Psst, sini kuberi tahu rahasia lain lagi. Di Temajuk sangat biasa orang meninggalkan motor dengan kunci masih menggantung di motornya. Kalau kami para anak KKN naik motor dan reflek mengambil kunci setelah memarkir motor, anak-anak Temajuk akan melihat kami dengan heran.

Kangen sekali dengan Temajuk :')

Cibinong, 
kata gugel map 1100++ KM dari Temajuk
19/11/17

Sabtu, 18 November 2017

(Terbiasa) Berisik

Saya menulis ini saat sedang menunggu servis motor.  Tiba-tiba saja, ada suara cek sound. Awalnya saya kira hendak ada pengumuman atau tim sales hendak koar-koar promo produk atau kredit murah. Tebakan saya salah. Ternyata mereka memutar musik kencang sekali. Hiks, ketenangan sebelumnya yang saya manfaatkan untuk membaca buku menjadi terusik. Lalu saya ingat, kejadian sama sempat terjadi ketika saya menunggu servis motor (juga) sebelumnya. Kali itu pun saya hendak menuliskannya di blog namun ternyata teralih banyak hal dan terlupakan.

Hal-hal demikian seringkali mengingatkan saya saat menempuh perjalanan Sendai-Tokyo bersama Alim usai ikut TSSP. Tsani, adik kelas saya memesankan kami bus untuk menuju Tokyo. Karena dipesan jauh-jauh hari, kami mendapati nomor kursi 1A dan 1B kalau tidak salah. Intinya 2 kursi itu ada di paling depan sekaligus posisinya ada di belakang supir.

Tentu saja ada-dan mungkin banyak- hal-hal yang ingin kami perbincangkan selama di perjalanan. Tapi suasana di bus sangat sepi dan kami berusaha bercerita dengan suara sepelan yang kami bisa.

Sampai pada suatu pemberhentian lampu merah, supir bus berdiri dan menoleh pada kami (lokasi duduk sopir bus lebih rendah daripada penumpang). Ia tentu saja bisa menebak bahwa kami bukan penduduk Jepang. Lalu dengan bahasa isyarat, ia meminta maaf dan meminta kami agar tidak berisik sehingga tidak mengganggu penumpang lain. Kami yang saat itu diperingatkan, dengan malu sekaligus kaget seketika mengatakan, "Summimasen, summinasen". Lalu bus kembali berjalan ketika lampu sudah hijau.

Seelah itu, saya dan Alim memang tidak otomatis diam seribu bahasa selama perjalanan menuju Tokyo. Tapi tentu saja kami jadi lebih tahu diri. Kami dengan suara pelan yang kini tidak mengeluarkan suara atau dengan bahasa tulisan hp mengobrol. Kami sama-sama sangat mengagumi penghormatan orang Jepang terhadap privasi orang lain. Ketenangan barangkali sudah dimiliki sebagai hak asal yang dimiliki tiap orang, sehingga mengganggu ketenangan adalah hal yang perlu izin. Bukan sebaliknya. Pada umumnya kita sering merasa orang lain berisik sehingga kita perlu menegur jika merasa terganggu. Dan melihat apa yang orang Jepang lakukan (dan ketika menulis hal ini) saya jadi sadar bahwa itu terbalik. Yang berperan sebagai awalan harusnya adalah kondisi tenang itu sendiri, sehingga, untuk mengusiknya kita perlu meminta izin.

Oh ya, bus yang kami naiki ini bukan bus yang paling bagus tentu saja. Tapi sedikit cerita, bus yang nyaman sekali seperti willer, punya semacam tudung kepala seperti kereta bayi agar dalam perjalanan jauh penumpang sangat nyaman an terlibdungi privasinya. Di bus yang kami naiki (dan tentu saja lebih murah) ini, tambahan untuk perlindungan privasi pun ternyata tetap ada :"" yakni ada korden pada kursinya. Jadi dalam bus pun penumpang tetap punya ruang privasi :')

Saya dan Alim kala itu juga membicarakan tentang kondisi di negara asal. Ketika musiklah yang justru disetel oleh supir untuk membuatnya tidak mengantuk. Dan sejak kejadian ini, kalau saya naik bis dan supirnya menyetel lagu (dan biasanya dvd bajakannya yang disetel ada tampilan visualnya), ingatan saya akan reflek pada kejadian di bis saat itu :') Seperti saat saya naik bis dari Bandung dalam keadaan mual dan tidak enak badan, suasana perjalanan malah menyetel musik yang membuat istirahat (bagi saya sendiri sih) tidak nyaman.

Ini kalo dibahas panjang, bisa sampe tampilan tidak menyenangkan dari visual yang ditampilkan di bus-bus dan memberi masukan yang tidak baik, apalagi kalo buat anak-anak. Padahal kita semua menginginkan transportasi umum yang nyaman-juga baik untuk pertumbuhan anak, ya :')


tempat servis motor
11.45

Senin, 13 November 2017

Oleh-oleh FDII

Sudah lama sekali rasanya nggak model-model yang habis ikut sesuatu terus share ke blog, ehehe.
Tapi momen FDII 2017 kemarin rasanya spesial sekali :")

I gain many inspirations and bunch of feelings there. Sejak masuk di gedung perpusnas, melihat para panitia yang dresscodenya adalah celemek bertuliskan "Penjaga Mimpi", dan melihat banyaaak sekali anak-anak di sana. Beserta ayah bundanya :") Rasanya terharu sekali, nggak cuma karena liat anak-anak dan kebahagiaan mereka di sana, tapi juga melihat perjuangan orang tuanya mau berlelah-lelah ke tempat acara untuk nganter dan ndampingin anaknya.

Kelas pertama yang saya ikuti adalah kelas membaca nyaring. Istilah ini diadaptasi dari istilah read aloud yang diambil dari buku berjudul Read Aloud-nya Jim Trelease. Jadi Bu Rosie, yang suka banget sama buku ini dan menggagas buku ini untuk diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, bilang kalau mendongeng itu kan nggak pakai buku, nah read aloud ini pakai buku. Dan ya tentu saja membacanya tetap dengan intonasi yang sesuai dengan ekspresi dan tanda baca. Oh ya, Bu Rosie ini dari Komunitas Reading Bugs yang mengingatkan kerjaan saya untuk mencari bug di aplikasi wkwk dan beliau ini sudah punya cucu. Sungguh by the way aku terinspirasi untuk bagaimana tetap produktif di usia sudah punya cucu.

Buku yang Ibunya bawa menarik-menariiiiik :")) jadi nambah wawasan tentang buku anak dan kuingin mengoleksinya jadinya. Kabar baiknya beliau bilang suka ndapetin di toko buku bekas, tapi di Pasmod BSD *dulu pernah ke sana jaman masih jadi anak tangsel. Nama yang jual Pak Husni kalau nggak salah. Kabar buruknya, nggatau kapan bisa ke sana. Ibunya dapet 1 buku Franklin dengan arga 5000 cobaaa.

Oh ya dari Bu Rosie juga aku tau kalau buku anak itu sebaiknya ditulisnya bukan dengan huruf a ang kayak di font Times New Roman, tapi a yang bulet itu yang gendut dan garisnya di samping kanan.

Mengapa demikiaaaan...salah satu alasannya juga adalah karena membaca dari buku itu akan megenalkan anak pada huruf, meskipun mereka belum bisa membaca. Sebagaimana manusia lebih mudah menangkap sesuatu melalui gambar, begitu pula kata juga kumpulan dari gambar; gambar huruf.
"Anak itu maunya bukan dibacainnya, tapi mau waktu orang tua."
Satu hal yang aku suka juga dari konsep membaca nyaring ini adalah. Membaca nyaring ini cukup 15 menit setiap hari. Dan yang penting itu prosesnya. Jadi kalau misal satu buku dibacainnya tiap 4 halaman terus dilanjut besok ya gakpapa. Anak akan penasaran dan itu memang prosesnya. Juga dengan ngobrol banyak tentang isi buku, detil gambar buku, apapun. Itu prosesnya. Anyway ada lo picture book ang isinya pure emang gambar ajaa tanpa teks. Ehh tapi ya kalau mau baca sebuku juga nggak ada larangan.
"Di otak itu ada bagian limbik yang berhubungan dengan perasaan. Limbik ini punya pintu yang tertutup di usia seitar 6 tahun.  Kalau bagian itu tertutup dengan suara orang tua yang menyenangkan, kelak besar keika ia punya masalah, yang ia cari adalah suara orang tuanya. Dia tidak akan cari kemana-mana lagi." 
-Bu Rosie Setiawan
((quote yang gini-gini nih yang menstimulus pingin jadi fulltime mother kelaak :"))

Oh ya dari sesi kelas ini ada buu yang menarik perhatian: Emillia Belum Mau Tidur dan Coba Lagi Coba Lagi yang diilustrasi oleh Mbak Gina. Ilustrator ini aku sebut karena  ada hubungannyaa nanti di akhir :")

((sapai jumpa di tulisan kedua))

ini slesai sampai sini Senin lalu kayanya, 6/11. Entah kenapa kemarin ga langsung dipos

Senin, 06 November 2017

Tidak Akan Ke Mana-mana

"Di otak itu ada bagian limbik yang berhubungan dengan perasaan. Limbik ini punya pintu yang tertutup di usia sekitar 6 tahun.  Kalau bagian itu tertutup dengan suara orang tua yang menyenangkan, kelak besar ketika ia punya masalah, yang ia cari adalah suara orang tuanya. Dia tidak akan cari kemana-mana lagi." 
-Bu Rosie Setiawan
((quote yang gini-gini nih yang menstimulus pingin jadi fulltime mother kelaak :"))

Tantangan Media Sosial

Tantangan media sosial masa kini itu bukan hanya dikit-dikit upload atau waktu kepo yang kelamaan, tapi juga memperlihatkan di mana keberpihakan kita saat orang-orang bertentangan dengan prinsip-prinsip kita. Contoh mudahnya;

Ada teman posting foto dengan pacarnya; prinsip kita tidak sepakat dengan pacaran.
Tapi masih me-like, atau bahkan dikomen dengan komen yang mendukung kegiatan tersebut semacam "Suka deh liat kalian bareng" atau "Semoga langgeng ya" atau "Awet banget berdua".

Kalau mau doakan agar segera menikah, langsung saja to the point. Kalau nggak enak lewat komen, ucapkan dalam hati. Rasa sayang kita sama temen termasuk pada tidak mendukung kegiatan yang kita tahu itu tidak disukai Allah.

#ntms